Selasa, 22 Maret 2011

MANUSIA BERPENDIDIKAN YANG BERWATAK PANCASILA
Krisis mendasar pada manusia berpendidikan
Baru-baru ini madia masaa, baik cetak maupun elektronik menginformasikan kepada public, bahwa Sri Mulyani (Mentri Keuangan) telah mengundurkan diri dari jabatannya, yang di sinyalir adanya dugaan kasus bank century. Yang paling terbaru adalah kasus MARKUS (Makelar Kasus) di departemen Pajak yang menyeret beberapa pejabat tinggi perpajakan. Problem yang satu belum usai datang yang baru, ini mengindikasikan adanya sekenario yang tersusun secara sistematis di elite bangsa ini, yang seolah fakta kebenaran semakin susah di ungkap.
Segelimet persoalan krusial diatas, nampaknya ada persoalan yang sangat mendasar pada manusia-manusia kita, yaitu pada proses pembinaan dan proses pendidikan yang hilang secara utuh pada manusia kita. Yang akhirnya mau ataupun tidak pendidikan mendapatkan kritik dari berbagai kalangan, begitupun nampaknya pendidikan kita belum masuk pada proses keterbinaan dan ketersadaran manusianya.
Para kritikus pendidikan, yang memiliki cara pandang kritis terhadap pendidikan, yang membongkar asumsi masyarakat bahwa pendidikan sangatlah netral yang tidak memilki keterkaitan dengan aspek apapun, bahkan politik kekuasaan, namun mereka berasumsi bahwa ada keterkaitan antara suatu kekuasaan yang sangat berimplikasi terhadap lembaga pendidikan. Para kritikus Mengkritik secara keras akan persoalan pendidikan, pembinaan terhadap manusia, bukan hanya pada komunikasi dan relasi yang terjalin dalam di lingkungan sekolah semata dan bukan hanya pada transfer knowlarge (transformasi pengetahuan), akan tetapi proses penyadasaran diri. Yang sehingga proses kesadaran yang terbangun dalam peserta didik.(Poulo Freire;2007)
Dr. M.Agus Nuryanto (2008) dalam bukunya ”Pendidikan Mazhab Kritis”, persoalan yang terjadi di dunia global hari ini adalah banyak faham yang mendorong masyarakat untuk berfikir matrealisme, yang sehingga kecenderungan orang tua memilki tujuan menyekolahkan anaknya adalah menjadikan anaknya untuk memdapatkan pekerjaan yang layak sebagai orientasi pertama, jadi bukan menjadikan sekolah sebagai proses pendewasaan apalagi memunculkan kesadaran-bahasa. Prof Ahmad Tafsir memanusiakan manusia-pada si anak, hal ini tanpa disadari akan memplot pola pikir anak bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan, yang pada akhirnya akan terjadi pemilahan fakultas, mana fakultas yang mengorientasikan kerja mana yang tidak, sebagai contoh kecil, kampus kita mahasiswa banyak sekali berbondong-bondong masuk jurusan Pendidikan ketimbang Filsafat atau Sastra. Sebab pasar kerja pendidikan lebih banyak ketimbang Filsafat ataupun sastrawan.
Bukannya penulis mengatakan bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan itu salah akan tetapi tidak di jadikan orientasi kerja dari sekolah. Yang nantinya hemat penulis hal tersebut akan membentuk masyarakat yang matrealis dan berpola fikir kafitalis, manusia-manusia pengekor, bahasa aktifis manusia-manusia ABS (Asala Babeh Seneng).
Ketika problem dalam Manusia pendidikan kita seperti diatas, kiranya penulis mencoba mengkorelasikan antara krisis manusia berpendidikan yang masih kurang tertanamnya nilai-nilai Pancasila, yang sehingga mampu menjaga dan memperbaiki bangsa ini.
Perlunya Pendidikan yang menanamkan Nilai-nilai Pancasila
Pertanyaan pertama mengapa harus nilai-nilai pancasila?, mudah saja jawabannya, sebab Pancasila bagi bangsa Indonesia kiranya telah sepakat sebagai jati diri, kepribadian, falsafah hidup, dan landasan hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga dalam dunia pendidikan pancasila selama ini terus menjadi bahan ajar di setiap lembaga pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi. Yang mana nilai-nilai pancasila akan menjadi pandangan hidup bagi warga indonesia.
Lalu apa saja nilai-nilai pancasila itu?, ada lima nilai pancasila itu, pertama, orang Indonesia harus mempercayai adanya Tuhan yang Esa menurut agamanya masing-masing, maka bangsa indonesia haruslah berfaham Theisme (berfaham ke-Tuhanan), bukan atheis (tidadk bertuhan), maka ketika bangsa indonesia memilki sesuatu yang di percayai secara transenden maka akan memiliki efek domino terhadap sesuatu yang lain, meminjam bahasa Cak Nur, kepercayaan yang benar akan melahirkan tata nilai yang baik terhadap peraban manusia.
Maka nilai ke-imanan terhadap sesuatu yang esa yakni Tuhan ini menurut A.Tafsir (2008;53) akan menjiwai terhadap empat nilai lainnya. kedua, manusia yang adil dan beradab yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan yang Esa, ketiga, persatuan indonesia, kempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Dalam hal ini Muhamad SAW merupakan contoh kita sebagai sang pembebas kaum lemah, Asgar Ali Enginer (2006;41-42) menjadikan Nabi Muhamad SAW sebagai sang revolusioner dunia, melihat sejarah kondisi sosio-kultur mekah sebelum Nabi Muhamad SAW dilahirkan, apa yang terjadi masyarakat mekah pada waktu itu adalah masyarakat yang buta huruf, masyarakat berasumsi bahwa belajar baca-tulis akan menghabiskan waktu dan bahkan buta huruf menjadi kebanggaan bagi mereka, yang sehingga zaman sebelum datangnya Islam disebut zaman jahiliyah.
Kehidupan relegius bahkan lebih buruk, setiap suku memilki berhala sendiri, para sejarawan menyebutkan kurang lebih dari 360 berhala di letakan di ka’bah, wanita sangat tidak di hargai, mereka secara ekonomi dan sosial sangatlah di batasi, status perkawinan mereka sangatlah buruk hanya di jadikan permainan belaka, bahkan ayat al-Quran menjelaskan ketika bayi perempuan lahir akan di kubur hidup-hidup. Kondisi ekonomi lebih suramnya, kesenjangan golongan masyarakat lemah tidak di hiraukan, perbukan sudah menjadi hal biasa di jaman jahiliah, para buruh di kerja paksa hanya mendapatkan gajih sedikit.
Muhamad lahir dalam kondisi sosial mekah yang sangat buruk sekali, yang sehingga beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis sebab kondisi masyarakat seperti itu, dan kemampuan baca-tulis beliau tidak memilki nilai fungsional kecuali untuk urusan dagang dan itupun dikenalkan untuk kebutuhanya dalam berdagang. Beliau mengejutkan mekah pada usia 40 tahun membebaskan masyarakat mekah dan seluruh umat manusia. Pembebasan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia serta memberikan kebebasan berfikir dan berbuat. Inilah gambaran ideal yang musti kita contoh, yang menginsfirasi hidup dan memiliki makna tujuan yang jelas, beliau juga berjuang untuk membebaskan kaum tertindas. Prof. A.Tafsir menjelaskan bahwa dari kelima nilai dasar pancasila itu terjiwai dan terwarnai oleh sila yang pertama yang menjadi nilai inti, serta mengarahkan empat nilai yang lainya.
Kita lihat dilapangan, pertanyaannya, Sekarang sejauh mana perhayatan peserta didik terhadap nilai-nilai pancasila? Seberapa jauh siswa memperoleh indikator konkret dari Pancasila?, Paling tidak siswa memahami kaitan bahan ajar di sekolah dengan Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa Indonesia. Yaitu bagaimana secara rasional bahwa mata pelajaran kewarga-negaraan, pendidikan agama, IPA, IPS, kesenian, olah raga, muatan lokal, dan lain-lain, merupakan hasil elaborasi dari pilihan acuan pendidikan.
Bagaimanapun, untuk menetapkan arah pendidikan, tidak akan lepas dari persoalan tujuan hidup dan maknanya bagi individu dan masyarakat. Oleh karena itu, tujuan hidup masyarakat melekat pada nilai-nilai masyarakat dan perubahannya.
Manusia berpendidikan yang diharapkan oleh Pancasila
Manusia dalam pandangan Nilai-nilai dasar Perjuangan (NDP) HMI, di jelaskan bahwa manusia adalah puncak ciptaan, merupakan mahluk yang tertinggi dan adalah wakil dari Tuhan di bumi. Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). hati nurani adalah pemancar keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran.
Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari mahluk-mahluk yang lain. Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.
Ada keselarasan nilai-nilai pancasila ayat pertama bahwa manusia memilki kecenderungan kepada keberan mutlak kepada Tuhan yang maha Esa, yang dimana tujuan pendidikan adalah manusia yang baik, manusia yang baik akan meciptakan masyarakat yang baik dalam kehidupan, masyarakat yang baik adalah masyarakat pada zaman Rasullah SAW, yaitu masyarakat Madani.
Masyarakat madani adalah masyarakat kota, masyarakat yang mengenal hukum dan taat hukum, Prof Ahmad Tafsir mengatakan bahwa yang diperlukan untuk mewujudkan masyarakat madani yaitu adanya hukum yang mengatur masyarakat manusia yang sesuai dengan kemanusiaannya, hukum itu di taati dan adanya penegak hukum.
Melihat poiter-pointer nilai pancasila penulis mengambil kesimpulan bahwa masnusia berpendidikan yang diharapkan oleh pancasila adalah manusia yang memilki kesadaran dalam membangun masyarakat baik, manusia yang memilki berwatak keillahian secara fitrah kemanusiaan, manusia yang menerima pluralitas masyarakat, manusia yang demokratis, manusia yang memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap kaum lemah, manusia yang vionir, manusia yang memilki aktivitas berjuang dalam membebaskan pendindasan. Maka bersamaan dengan ini manusia yang di harapkan oleh pancasila adalah manusia yang paripurna atau insan kamil
Hemat penulis Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa harus menampakkan diri sebagai indikator karakteristik mentalitas bangsa Indonesia. Yang sehingga bisa terwujud dalam mental pesrta didik (lulusan pendidikan), termasuk tujuan pendidikan yang dielaborasi menjadi tujuan Institusional, tujuan Kurikuler, dan tujuan Instruksional.
Diposkan oleh allenlolipoly_gula2 di 00:20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar