Kamis, 12 Februari 2015

Perihal Skripsi Jurusan Bahasa Asing

Process is the main key of success

Ada yang tanya, bagaimana caranya biar lancar nulis skripsi bahasa asing sis??
Jawabannya paling pas: sungguh sungguh kuliah nya dari awal..
percaya saja, nulis skripsi menggunakan bahasa sendiri saja, bahasa indonesia misalnya, sudah sangat membutuhkan konsentrasi penuh. apalagi skripsi bahasa asing. Jadi, jika kamu mahasiswa dijurusan bahasa, lebih baik persiapkan skill sejak dini. Jangan biasakan mengabaikan ketidakpahaman. Kamu akan kewalahan di semester akhir.
Kalau terlanjur semester akhir baru sadar!!
Emang resikonya bersusah payah!!
Kalo orang harus mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk sebuah akhir yang layak..
Apa hebatnya kita hingga bisa sukses dengan cara kebut semalam.. Seandainya kamu menghadapi hal ini, maka tidak ada salahnya kamu mencoba lebih keras untuk mengerti problema yang kamu angkat dalam skripsimu. Memahami masalah adalah hal utama yang bisa membantu kamu menulis. Nanti kalau urusan struktur kalimat yang kacau balau, kamu bisa minta bantuan revisi sama dosen pembimbing atau teman yang kamu tau lebih baik darimu.

kan bisa dibikinin sama teman..
Jangan pernah terfikir untuk bergantung utuh pada orang lain tanpa ada usaha sedikitpun dari dirimu. Teman yang akan membabntu tidak bisa membantu pada sidang skripsi. Dan mereka yang akan duduk di kursi penguji adalah mereka yang sudah menguji atau bahkan diuji dalam situasi yang sama beberapa kali.

Ingat satu hal, Dosen yang udah bertahun bersama kita tidak mungkin tidak mengenal kemampuan kita.. hati hati lagi..

Pokoknya tidak ada jalan pintas!!

Tingkat usaha sama dengan level pencapaian, tuhan tidak pernah salah dalam meletakkan sesuatu..
Serius dalam melakukan pekerjaan adalah kunci sukses nya..

Study hard!! Inilah persiapan terbaik bagi kamu yang kuliah jurusan bahasa asing. Bersiap-siap lah sedari awal perkuliahan. Good Luck!!

Sabtu, 31 Januari 2015

Pembunuhan Karakter

Negaraku Memang Masih Miskin
Hanya ingin menulis, maafkan..
Negara ku sayang, seperti inilah miris nya sebuah hati. Dinegara yang berbasa-basi, pembunuhan karakter yang semakin menjadi-jadi, para penjunjung tinggi reputasi yang menjadi pemenang. Seorang seperti ini saya, seorang gadis biasa yang terseok-seok menjalani proses kehidupan. Yang selalu tersenyum dengan segala kenyataan. Yang tidak pernah menuntut akan janji. Saya ingin menuliskan pesan ini.
Saya memang seorang yang lebih banyak menganalisa. Saya terlalu kritis dan sesekali keterlaluan mengartikan sebuah teori. Saya mempercayai buku-buku dan kutipan-kutipan orang hebat. Yang sering membuat miris hati adalah tidak bisa tersampaikan pemikiran orang yang kerdil ini.
Perjalanan saya tidak terlalu penting dilirik, prestasi saya pun tak bisa diangkatkan. Kecuali selama saya menyandang status sebagai seorang siswa. Saya setipe siswa yang bukan penghapal, Logika pun berjalan lebih mengerikan dari seharusnya di negri beradat ini. Selagi kamu benar, sendirian, maka kamu mati, musnah, tentanglah kebenaran tersebut untuk bertahan, untuk hidup. Maka hati pun tenggelam, perlahan.
Basa basi itu kejam. Bagi saya yang perlahan berubah jadi sosok pendiam ini, bukan karena sesuatu mengubah saya, hanya saja teori-teori yang terbaca membuat saya ingin berhenti sejenak, mengurang-ngurangi kesalahan dari mulut besar yang senang menganalisa. Saya bukan lah gadis pintar tapi saya luar biasa. Seperti itulah kehidupan sekitar menilai saya. Mereka yang terpikat oleh tampilan luar. Kehidupan sederhana, yang dimata mereka, penguntit, saya luar biasa. Basa-basi terkadang sulit untuk saya utarakan, karena teori yang saya selalu dan selalu analisa membuat saya jengah memuja. Kutipan-kutipan Orang hebat yang saya baca hampir setiap harinya, membuat saya berfikir tidak perlu memuji, tidak usah berbohong. Lakukan apa yang kamu ingin lakukan. Jadilah diri sendiri. Lakukan kesalahan pada tak seorang pun. Saya pun terfokus pada kehidupan saya. Hanya hidup saya dan orang orang yang saya sayangi.
Dinegara maju, kehidupan tak dibangun dari basa-basi. Berhubung saya adalah mahasiswa jurusan Bahasa Inggris, bahkan teman bule saya pun menjalani kehidupan idealis. Mereka Cuma berpegang teguh pada satu perumpamaan “berpeganglah pada suatu yang benar”, cukup itu saja. Kata-kata ini sesungguhnya meng-cover semua kebaikan. Tidak ada hati yang membenarkan sesuatu yang salah kecuali hanya kebohongan mulut demi menjaga eksistensi dan reputasi palsu. Saya pun mulai menganalisa lagi, benar. Kebenaran adalah satu-satunya yang perlu dipercayai dalam hidup. Begitulah teori-teori yang dipercayai benar dan selalu saya pelajari dibangku sekolah.
Mengapa mereka maju dan kami tidak maju? Para orang yang berpegang pada teori-teori kebenaran yang terkadang sudah dibukukan serta memiliki copy beribu-ribu eksemplar. Karena saya mempelajari ilmu bahasa asing, saya pun mulai mengartikan quotes para ilmuan asing, para motivator asing, para public figure asing. Kebiasaan ini menjadikan saya selalu dan selalu menganalisa dan berubah bungkam.
Saya setuju dengan mereka, pelajaran yang saya dapatkan di bangku sekolah pun membuktikan kalau perkataan orang asing ini memang sempurna. Mereka berkata-kata pada titik tolak yang sempurna. Tidak terbantahkan. Saya selalu memiliki keyakinan. Terkagum bukanlah hal murahan yang dengan mudah terlontar dari mulut saya. Saya tidak suka memuji, entahlah. Kebiasaan saya melihat kesempurnaan dan kebenaran teori membuat saya berkarakter sombong. Untuk mereka, pemuja basa basi. Saya, sombongkah? Lihatlah bagaimana saya hidup, bahkan bersekolahpun saya tidak menjunjung tinggi kemewahan. Saya tidak lah sosok yang bisa ber-boros karena saya hidup dalam kesederhanaan di sebuah desa. Disebuah desa saja. Hanya saja, saya selalu menganalisa teori.
Apa yang salah?
Saya mulai merintih ketika pendidikan itu usai. Saya mulai menangis saat saya tidak lagi dipanggil sebagai siswa. Saya mulai berteriak pilu ketika saya tidak lagi keluar rumah untuk bersekolah. Saya menyukai belajar, bukan menghapal teori, saya yang pelupa, saya yang payah dalam menghapal. Otak saya dangkal. Bahkan untuk mengingat sesuatu baik itu nama orang yang saya temui, tempat yang pernah saya kunjungi, novel-novel yang pernah saya baca, buku-buku yang saya punya, film-film yang pernah saya tonton, saya lemah, sering terlupa. Saya tidak ingat nama para motivator yang saya kagumi, salahkah saya yang hanya menyukai belajar? Saya kagum mereka yang bisa mengeluarkan teori, saya kagum dengan mereka yang bisa menjadikan orang lain manusia. Hanya masalahnya, saya sulit mengingat dengan baik sesuatu secara rinci.
Tidak satu dua tiga orang pintar dinegara saya dihina. Mereka tidak mampu menjaga eksistensinya dinegara basa-basi. Orang pintar yang dielu-elukan dimasa sekolah, adalah raja-raja sekolahan. Saya masih ingat bagaimana teman saya yang menjadi para jawara disayangi, saya msih ingat bagaimana para penggores prestasi dikenal. Saya masih ingat bagaimana orang pintar namanya berulang-ulang dielu. Dimana? Disekolah. Hidup sependek itu kah dinegara kami?
Saya ingin menuliskannya dalam sebuah simpulan untuk para raja sekolahan yang sedang bermimpi tinggi.
Sebenarnya bukan saya yang salah, tapi tempat saya beradalah yang salah.
Yet, it’s not my mistake, but the wrong place takes.
Teruslah bermimpi tinggi, tidak boleh layu sebelum bersemi. Tebarkan benih-benih pintarmu untuk mimpi kehidupan yang lebih baik yg pasti jadi kenyataan jika terus melakukan, ditempat ini. Tempat mu berdiri. Memulai perbaikan.

Selasa, 08 Juli 2014

Indonesian Students and Studying abroad

Nowadays, studying abroad  is prioritized as a goal by Indonesian students at university.  This is like an opinion. When students enter university in specific majors. They start making dreams to study abroad. It's not rare that lecturers make an overwhelming description of being abroad student in order to attract the students to study hard so that they get the best mark at university. It's not rare that lecturers motivate them at a time by telling their own experiences  in learning process . Studying with people worldwide gives a big challenge and satisfaction. Mostly students dream to continue their master in another country.


Scholarship is the widest chance students can win in the Indonesia to get their dreams come true. The price of studying abroad is distinctly expensive for Indonesian students considering the currency of Rupiah (Rp). So many Indonesian students try hard to get the best final mark at university in order to register themselves to get an abroad scholarship. There will be always scholarships with big quota served by many universities in Indonesia. They support this program by giving chances to students with great achievement at University previously. Many Indonesian students with great achievement have got scholarship abroad. Indeed, there will be list requirements and competitors in order to put yourself as the winner, but big possibilities are available. So, keep studying hard and  reach the world with your bright achievement at university.






A Girl in Her Room

I love sitting alone in my room.. i start to listen music, i start to type my thesis, i start to watch some movies, i start to think to write something. Why do i think before i write? :D yah, it needs mood anyway.. I am so alone if people see me sitting here..
I love solitude. I can do whatever i want like i have no burden at all. First step i take when i enter my room leaves great feeling. I love people, but i love my room more. I have no idea. This is my freedom.

Bagaimana kita (Poetry)


Lama
Kerlipan mata serasa semusim
Tak satu lirikan pun berarti
Ketukan nafas berisik mengganggu
Tak sepatah kata bisa mengubah rasaku
Detik jarum jam berlambat lambat mencemooh
Lama
Rentetan kata-kata berjejer
Terkadang mengusik alunan ketukan nafas itu
Sesekali helaan memanjang tak teratur
Sekali lagi detik jarum jam berlambat-lambat mencemooh
Lama



By: Fatimah
ibymakino3@gmail.com